Kopi Sipirok, Karya Asli Alam Tapanuli

Sipirok adalah nama sebuah kecamatan yang terletak di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kondisi geografisnya yang berada di dataran tinggi, membuat Sipirok menjadi daerah perkebunan dan pertanian yang menghasilkan berbagai macam tanaman. Seperti padi Sipirok yang terkenal kualitasnya. Selain padi, Sipirok menjadi salah satu daerah penghasil kopi di bumi Tapanuli, yaitu Kopi Arabika Sipirok yang memang sudah terkenal kualitas dan ciri khasnya. Dengan keunikan rasanya pula, kopi sipirok digemari masyarakat luas dan menembus pasar dunia.

Sejarah Kopi Arabika Sipirok

Perkebunan kopi arabika Sipirok sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Beberapa pengusaha asal Belanda membangun beberapa perusahaan kopi dengan didukung oleh VOC. Ribuan hektar perkebunan kopi dibangun di pegunungan Aek Bariba, dengan tenaga pekerja berasal dari masyarakat asli sekitar pegunungan.

Awal mula perkebunan kopi Arabika Sipirok ini ternyata mempunyai sejarah panjang dan sangat berkaitan dengan kopi Mandailing asal Minangkabau. Kopi Mandailing merupakan merk dagang salah satu perusahaan kopi, yaitu NHM yang bernaung di bawah VOC. Merk ini sangat terkenal dan digemari masyarakat Eropa. Perusahaan NHM milik Raja Wilem I yang hanya menginginkan sebuah keuntungan akhirnya memperoleh dukungan kerajaan Belanda untuk menerapkan sistem tanam paksa untuk tanaman kopi yang akhirnya memperluas perkebunan kopi dari Minangkabau hingga Tapanuli, termasuk ke Sipirok.

Namun jauh dari penerapan sistem tanam paksa ini, kopi sipirok memang sudah dibudidayakan oleh warga asli sipirok. Salah satu perkebunannya dimiliki oleh Djaroemahot Nasution. Perkebunan yang dimiliki olehnya terbentang dari pegunungan Aek Bariba hingga Bungabondar. Bibit kopi itu diperoleh dari ayahnya yang juga didapatkan dari pedagang asal Arab yang mengunjungi pelabuhan di pantai barat, dan kemudian biji kopi itu ditanam di lahan miliknya.

Setelah ayah Djaroemahot Nasution meninggal, dia menjadi pewaris kebun kopi tersebut. Dengan kepemilikan beribu hektar perkebunan kopi arabika, dia menjadi dekat dengan seorang pedagang kopi yang bekerja untuk pemerintah kolonial, Gustaf van Asselt yang kemudian memberikan informasi khusus bagi pemerintah Belanda bahwa tanah Tapanuli memang bagus untuk perkebunan kopi. Akhirnya pemerintah kolonial membangun beberapa hektar perkebunan kopi bahkan menerapkan sistem tanah paksa.

Karakteristik Kopi Arabika Sipirok

Kopi Arabika Sipirok menjadi salah satu dari beragam jenis kopi Mandheling. Sekedar informasi, kopi Mandheling sendiri terdiri dari beberapa jenis kopi. Yaitu kopi Gayo, kopi Simalungun, kopi Sipirok, kopi Sidikalang dan kopi Mandailing. Kopi Mandheling memang mempunyai karakter kuat yang tidak akan ditemukan pada kopi jenis lain. Walaupun namanya tidak begitu seterkenal kopi luwak, namun kopi Sipirok menjadi bagian dari brand Speciality Coffee Indonesia.

Kopi Arabika Sipirok ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian 1.200 – 1.500 diatas permukaan laut. Saat ini, petani bersama pemerintah Tapanuli sedang berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas panen kopi Sipirok. Dari hanya 700kg per hektar menjadi 1500kg per hektar. Untuk pembudidayaannya sendiri masih dinilai belum maksimal. Karena proses panen dan setelah panen, biji kopi arabika Sipirok yang dihasilkan langsung dijual tanpa melalui proses apapun. Sehingga membuat nilai jual kopi ini rendah di pasaran.

Rasa dan Penyajian Kopi Sipirok

Kopi Arabika Sipirok dapat disajikan dengan berbagai macam cara penyajian. Seperti disajikan dengan cara biasa, yaitu hanya dengan diseduh dengan air panas. Tidak hanya dengan diseduh biasa, kopi sipirok juga dapat disajikan ala kopi Vietnam. Yaitu dengan cara disaring, dan hasil tetesannya akan bercampur dengan susu kental manis yang sudah diletakkan di dalam gelas. Rasanya akan menjadi sangat manis seperti permen. Kopi ini juga bisa disajikan dengan cara penyajian Americano untuk mendapatkan kesan yang berbeda.

Saat sebelum meminum kopi ini, mungkin yang ada di bayangan adalah rasa pahit kopi yang teramat sangat. Rasa dari kopi sipirok ini memang pahit, namun dengan tekstur yang lembut dan tidak pekat membuat cita rasa kopi yang pahit ini menjadi berbeda.

Kopi Luwak Sipirok

Selain dengan kopi arabika sipirok, ternyata Sipirok memiliki potensi penghasil kopi lain. Yaitu melalui kopi luwak sipirok. Dengan luas perkebunan lebih dari 90 hektar, selain menghasilkan kopi arabika biasa, namun Sipirok juga mampu menghasilkan kopi luwak, kopi unik yang sudah mendunia yang proses pengolahannya dibantu oleh hewan luwak atau sejenis musang.

Pada awalnya, produksi kopi luwak sipirok ini tidak sengaja. Alasannya karena banyaknya luwak yang memakan biji kopi dari perkebunan yang memang terletak di dekat hutan lindung. Setelah memakan biji kopi, luwak-luwak itu kembali masuk ke hutan lindung dan membuang kotoran mereka di area dalam hutan.

Para petani pun menyayangkan, karena biji kopi hasil proses olahan alami luwak itu memiliki nilai jual yang tinggi. Mereka akhirnya menanam pohon-pohon buah di dekat area perkebunan kopi yang membuat para luwak menjadi kekenyangan karena menyantap buah-buahan tersebut. Luwak yang kenyang mengeluarkan kotoran berupa biji kopi utuh di dalam area perkebunan yang kemudian dikumpulkan para petani untuk proses pengolahan lebih lanjut.

????????????????????????????????????

Biji kopi yang dikeluarkan luwan tentunya berbeda dengan biji kopi yang dikonsumsi dan dikeluarkan hewan lain. Luwak mengeluarkan biji kopi secara utuh karena proses pencernaan luwak tidak bisa mencerna dan menghancurkan biji kopi. Dan saat membuangnya, luwak biasanya mencari tempat seperti batang pohon sehingga membuat biji kopi yang akan diolah kembali tidak kotor dengan tanah.

Para petani yang menyadari adanya potensi besar dari luwak akhirnya membuat dan menanam tanaman pelindung yang bisa memancing luwak untuk mengeluarkan biji kopi tetap di area perkebunan mereka. Keuntungan yang didapat dari kopi luwak sipirok ini berkali-kali lipat. Selain bisa menjual kopi arabika sipirok, kopi luwak sipirok, hasil buah dari tanaman yang digunakan sebagai tanaman pelindung juga menjadi keuntungan tambahan.

Usaha Warga Sipirok Menaikkan Pamor Kopi Arabika Sipirok

Menyadari potensi yang begitu besar dari kopi Sipirok, baik Kopi Arabika Sipirok maupun kopi luwak Sipirok tetapi tidak diimbangi dengan perdagangan dan keuntungan yang kurang optimal, warga dan pemerintah kopi Sipirok berusaha untuk memperkenalkan kopi Sipirok kepada masyarakat Indonesia maupun dunia secara luas.

Seperti pada tahun 2014, warga Sipirok menyelenggarakan acara minum kopi luwak bersama dan bahkan sempat memecahkan rekor MURI karena melibatkan 3.060 warga yang mengikuti acara ini. Acara yang berlangsung bulan Agustus tahun 2014 ini, akan menjadi agenda tahunan warga Sipirok untuk lebih memperkenalkan kopi khas Sipirok kepada dunia.

Pada tahun 2016, upaya warga Sipirok untuk memperkenalkan kopi kebanggaan mereka membuahkan hasil. Beberapa negara seperti Korea Selatan, Amerika, China dan Australia tertarik dengan kopi Arabika Sipirok karena aroma dan rasanya yang unik dan berbeda dengan kopi jenis lain. Di pasaran, harga kopi Arabika sipirok maupun luwak sipirok ini ditawarkan dengan harga Rp 200 ribu hingga Rp 2,5 juta per kilogramnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *