Kopi Tanah Karo

Kali ini kita akan membahas tentang kopi tanah karo. Kopi merupakan salah satu hasil bumi di indonesia khususnya di Sumatera. Salah satu hasil bumi utama di Sumatera yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat khususnya kabupaten Karo. Karo adalah salah satu suku yang berada di Sumatera Utara yang mendiami dataran tinggi kabupaten Karo. Tanaman kopi ini merupakan komoditi yang sangat penting untuk menaikkan perekonomian masyarakat setempat. jenis kopi yang dikembangkan oleh masyarakat karo adalah kopi arabika. Secara umum tanaman kopi tumbuh pada ketinggian 500 s/d 2000 mdpl, dengan suhu rata-rata yaitu 21 sampai 24 derajat celcius. dan curah hujan 2000 – 3000 mm, dan di dukung oleh struktur tanah yang baik dengan kandungan bahan organik 3% serta Ph 5,5 – 6,5. Tanaman kopi yang terdapat di tanah Karo merupakan tanaman yang tersebar di seluruh Kecamatan, perkebunan kopi yang paling luas terdapat di Kecamatan Merek yang dikenal sebagai sentra produksi Kopi, karena wilayah tersebut merupakan daerah pengembangan tanaman kopi yang saat ini mencapai 1500 Ha.

Pohon kopi tanah karo berbobot besar dan juga tinggi, pohonnya bisa mencapai ketinggian tiga sampai lima meter baik untuk kopi robusta maupun kopi arabica. Kopi robusta yang ada di Karo disebut Kahoa. Perkembangan kopi tanah karo semakin lama semakin menunjukkan tingkatannya yang lebih bagus, maka dari itu kopi karo menjadi istimewa dan menjadi incaran pasar global. Bahkan kopi Karo ini sebagian sudah ada yang diekspor

Ada suatu wadah yang menampung untuk petani kopi Tanah Karo yaitu AKTK, pengepul kopi, eksportir kopi, dan penikmat kopi. Asosiasi tersebut menyiapkan bibit tanaman kopi asli yaitu Kopi Sinabung dan Kopi Sibayak. Terbentuknya suatu asosiasi ini untuk meningkatkan nilai ekonomis dan peluang bisnis Kopi Karo dan mengembangkan brand Kopi Karo tersebut untuk kesejahteraan bersama. Kualitas kopi Karo ini tidak kalah dengan kopi yang sudah lama beredar dimasyarakat. dataran tinggi Karo bukan hanya menghasilkan sayuran atau buah-buahan saja tetapi kopi yang dihasilkan pun juga sangat bagus. Asosiasi yang terbentuk untuk memajukan para petani kopi dan lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Karo karena masyarakat karo sering terkena dampak erupsi gunung sinabung. Jika semua masyarakat memilih kopi lokal maka dapat menaikkan citra Kopi Tanah Karo di Dunia.

Manfaat AKTK antara lain adalah sebagai berikut :

      pusat informasi seputar kopi, mengayomi petani dan juga melindungi produk kopi

      mengayomi petani kopi dan juga melindungi produk kopi

      Melahirkan kebun pembibitan kopi

      Menjaga kestabilan harga kopi di pasaran

      Mempromosikan dan juga mengangkat brand Kopi Karo

      Memajukan sistem budidaya dan pengolahan setelah panen

      membentuk dan juga memperkuat kelompok petani kopi

      mendorong perkembangan industri kopi

      menjadikan kopi karo sebagai produk unggulan di nusantara

      Memajukan sistem keuangan petani kopi

Kelebihan Kopi tanah Karo

Adapun kelebihan kopi tanah Karo ini adalah bobot bijinya besar dan aroma hingga rasanya juga sangat khas. Hal tersebut dipengaruhi oleh lahan kopi dan juga tumpang sari dengan tanaman sayur dan juga buah. Apalagi lahan kopi karo yang dulunya bekas perladangan jeruk vanili dan cengkeh.

Menurut Benson, tanaman kopi Karo sudah dikenal sejak awal tahun 1900 an dan hal ini ditandai dengan adanya produksi Karo Coffe yang sangat terkenal di negeri Belanda dan populer di jerman pada tahun 1942. Pada saat perang dunia kedua saat Belanda di Indonesia membuat jalur distribusi Kopi ke Belanda terputus.

Sebagian besar kedai kopi di wilayah Kabupaten Karo dengan perlahan akan meninggalkan tradisi lama yaitu menyajikan olahan kopi asli lokal, karena sekarang ini masyarakat lebih memilih kopi sachet yang mutunya lebih rendah dibandingkan dengan kopi tanah karo ini. Bisnis kedai kopi ini apabila diolah dan dikelola dengan baik maka tidak akan kalah dengan bisnis kopi yang modern yang sudah berkembang. Sekarang ini kopi banyak yang sudah dicampur dengan bahan lain, antara lain yaitu dicampur dengan jagung, tepung beras, pinang, gambir dan lainnya. Karena Hal inilah yang membuat kebanyakan orang orang jadi tidak menyukai kopi karena sering berefek buruk bagi kesehatan.

Sejarah Kopi Tanah Karo

Kedai kopi adalah istilah yang tidak terpisahkan oleh masyarakat karo. Kedai kopi bukan hanya sekedar tempat untuk menikmati kopi saja tetapi sudah menjadi kebudayaan sehari-hari. Hampir setiap pria di Kabupaten Karo pergi ke kedai kopi tersebut kadang pagi, siang, juga malam. Apabila mereka tidak pergi ke kedai kopi rasanya ada yang kurang. Kebiasaan tersebut dimaklumi dan dipahami oleh semua orang Karo terutama pada ibu ibu rumah tangga. Apabila suaminya tidak ada di rumah berarti sedang di kedai kopi. Yang disajikan di kedai kopi ini adalah minuman kopi selain itu ada juga teh, susu, dan juga bandrek dan minuman lainnya. Pada zaman dahulu yang disajikan adalah kopi asli daerah karo. Hasil panen kopi tersebut di sangrai dan digiling sendiri tanpa menggunakan peralatan modern semuanya masih manual yang dihasilkan adalah kopi bubuk. Kopi bubuk tersebut yang disajikan dengan menyaring bubuknya, ada juga yang suka dengan bubuknya tergantung dengan selera yang memesannya. Kedai kopi awalnya adalah sebuah unit usaha yang menyajikan kopi olahan. Sejarahnya tanaman kopi tersebut dibawa oleh bangsa penjajah yaitu Belanda untuk masyarakat Karo. Minuman kopi itu sebagai sebuah perkenalan produk kopi oleh Belanda agar masyarakat Karo mau menanam kopi tanpa dengan kerja paksa. Ketika Belanda berencana membangun tempat peristirahatan di bukit Gundaling dan membangun perangkat-perangkat pemerintahan di kaki bukit Gundaling dan juga bukit Kubu yang dulu dijadikan tempat pengasingan presiden RI Soekarno dilakukan oleh Belanda mengantisipasi serangan dari pegunungan sekaligus untuk mengamankan asetnya di pesisir, termasuk juga perkebunan, pelabuhan dan lainnya. Belanda mencoba hubungan baik dengan masyarakat dan juga membuka kedai Kopi dan juga bercocok tanam kopi. Dengan munculnya kedai kopi tersebut dapat menggeser jambur yaitu tempat perkumpulan yang membicarakan tentang kehidupan sehari-hari.

Belanda membawa etnis tionghoa ke dataran Karo sebagai pekerja jasa, maka etnis tionghoa saling berbaur dengan masyarakat Karo tersebut. Sampai saat ini etnis tionghoa bisa berbahasa karo dengan cukup baik. Etnis tionghoa tersebut dilatih oleh Belanda untuk mengubah kopi dari bahan mentah menjadi barang yang sudah jadi. Lambat laun masyarakat karo mulai menanam kopi dan juga merawatnya hingga sampai panen. Masyarakat karo banyak yang menanam kopi karena perputarannya sangat cepat dan dengan mudah bisa ditukar dengan uang. Kebudayaan sangat berpengaruh di masyarakat karo karena menjadi pusat informasi dan juga komunikasi antar warga masyarakat baik itu yang tinggal di daerah desa maupun yang datang ke desa, dan biasanya kedai kopi menjadi titik awal dalam merencanakan suatu kegiatan. Masyarakat karo sudah cukup lama mengenal kopi sebagai salah satu minuman penting untuk kesehatan. Apabila dalam mengkonsumsi dalam jumlah yang wajar dan tidak berlebihan maka minum kopi akan menjaga kesehatan anda karena kopi mengandung kafein. Kalau minum kopi secara berlebihan maka efeknya juga akan membahayakan bagi tubuh anda.

Sampai saat ini tradisi di kedai kopi masih terjaga dengan baik di tanah karo. Banyak petani sebelum ke ladang ke kedai kopi terlebih dahulu. Kedai Kopi tanah karo ini mencapai 1.000 kedai. tradisi kedai kopi diteruskan oleh perantau Karo karena mereka merantau ke seluruh Indonesia. Kedai kopi di Karo bukan hanya menyediakan minuman kopi tetapi juga minuman lainnya dan juga minuman kesehatan.

Wilayah pegunungan yang melingkupi tanah karo sangat mendukung untuk menyediakan minuman panas yang berfungsi untuk menghangatkan tubuh dari cuaca dingin. Setiap desa di kabupaten karo mempunyai lebih dari satu kedai kopi. Sampai saat ini kopi tanah karo tersebar di seluruh Kecamatan .Tetapi yang paling luas berada di Kecamatan Merek, Tiga Panah, Simpang empat, Payung dan Munte. Di kecamatan Merek dikenal sebagai sentra produksi kopi karena wilayah ini merupakan garis perkembangan tanaman kopi dan kini sudah memiliki lahan perkebunan kopi kurang lebih sekitar 1.500 hektare. Kopi yang dikembangkan adalah kopi jenis arabica dan pada masa yang akan datang diharapkan Kecamatan ini menjadi daerah Kimbun atau kawasan industri masyarakat perkebunan. Dari pengolahan sampai menjadi kopi bubuk dipusatkan di daerah Merek ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *