Mengenal Citarasa Kopi Kintamani Bali

Kopi dikenal masyarakat indonesia pada zaman penjajahan yang mana dibawa oleh Belanda. Dimana saat itu menjadi salah satu komoditas dagang pada masa kejayaan VOC. Berton-ton kopi di ekspor dari Indonesia setiap tahunnya menuju pasar Asia hingga Eropa sehingga Indonesia menjadi sasaran eksportir kopi. Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari tanah yang subur dan juga konstruk susunan tanah yang ada di beberapa wilayah tempat di Indonesia yang cukup beragam. Karena itulah yang menjadikan keanekaragaman kopi di Indonesia juga terbilang banyak. Hal tersebut dikarenakan oleh pihak Belanda dulunya kopi ditanam di beberapa wilayah Indonesia yang memiliki ketinggian tanah yang berbeda pula. Dimana salah salah satunya adalah di kepulauan Bali yang dikenal dengan nama kopi Kintamani.

Hasil kopi arabika dari perkebunan kopi Kintamani, Bali ini merupakan salah satu dari 3 jenis kopi di Indonesia yang mendapatkan sertifikat Indikasi geografis. Prestasi kopi Kintamani tidak hanya berhenti sampai disitu saja, dimana Kopi Kintamani juga memiliki Sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual dengan Indikasi geografis. Dengan kata lain kopi Kintamani Bali merupakan kopi pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikat HAKI dengan indikasi geografis.

Sejarah Kopi Kintamani

Sejarah kopi di Bali di awali dengan pembukaan perkebunan kopi di kawasan Kintamani. Dimana kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan yang memiliki ketinggian diatas 900 m dpl. Kawasan tersebut tentunya sangat cocok sebagai kawasan perkebunan kopi khususnya jenis kopi arabika dengan sistem pertanian yang dikenal homogen. Kelebihan lainnya yang dimiliki kawasan Kintamani adalah lokasi tersebut memiliki iklim dengan suhu dan hawa yang dingin namun kering. Terlebih lagi lokasi Kintamani juga merupakan kawasan yang bertanah vulkanis yang berada di kawasan daratan tinggi Gunung Batur dengan jenis tanah entisel dan inceptisol.

Disisi lain kawasan Kintamani merupakan kawasan yang memiliki curah hujan yang banyak selama 6-7 bulan musim hujan. Perkebunan kopi yang dibuka di kawasan Kintamani terletak anatara Tampak Siring hingga Singaraja yang memiliki luas sekitar 15.000 hektar. Tanaman kopi yang ditanam dikawasan tersebut merupakan tanaman kopi arabika yang dipilih dari varietas-varietas yang telah terseleksi. Disisi lain tanaman kopi tersebut juga ditanam dibawah pohon penaung dan dikombinasikan dengan tanaman lainnya, namun kopi Kintamani dikelola dengan pemberian pupuk organik.

Keunggulan kopi Kintamani

Kopi Kintamani dipetik secara manual dengan pemilihan yang seksama dengan warna merahnya mencapai 95 %. Cara pengolahan kopi ini diolah dengan sistem basah. Dimana fermentasi dilakukan selama 12 hingga 36 jam, setelah itu dikeringkan secara alami dengan proses penjemuran dibawah sinar matahari. Teknik ini merupakan teknik tradisional yang dikembangkan oleh petani kopi Kintamani yang dilakukan untuk mewujudkan kopi dengan kualitas premium.

Pada tahun 2003 dan 2004 telah dilakukan beberapa pengambilan sampel kopi Kintamani ini yang menunjukkan derajat sangrai sedang atau disebut juga dengan medium roast, kopi Bali Kintamani ini menunjukkan hasil sangrai yang homogen. Dimana aroma kopi yang didapat adalah aroma manis dan ada sedikit aroma rempah-rempah. Disisi lain kopi Kintamani juga dianalisis secara sensorial. Hasil yang didapatkan adalah tingkat keasaman reguler yang mencukupi. Disisi lain mutu dan intensitas aromanya cukup kuat. Rasa yang didapat memiliki kesamaan dengan aroma family buah jeruk. Dinilai dari kekentalan, kopi Kintamani ini memiliki kekentalan yang sedang.

Kopi Kintamani Bali juga memiliki tingkat kepahitan yang tidak terlalu pahit. Begitu juga dengan rasa sepat yang tidak begitu kentara. Hal tersebut didapat karena para petani kopi di Kintamani Bali berusaha penuh untuk mempertahankan tata cara petik pilih atau memetik gelondong merah saja. Pada sistem pemetikan tersebut tentunya didapatkan biji kopi yang tidak cacat rasa. Sistem yang diterapkan tersebut tentunya mengaplikasikan prinsip-prinsip “praktek pengolahan yang baik. Dengan berbagai penilaian tersebut sudah dapat dipastikan kopi arabika Kintamani tersebut memiliki cita rasa yang tinggi.

Bagi penggemar kopi, citarasa kopi Kintamani ini memang memiliki beberapa persamaan dengan kopi jawa. Namun pada kenyataannya kopi Kintamani asli Bali ini memiliki beberapa perbedaan yang mendasar. Dimana kopi Kintamani memiliki aroma yang lebih kuat atau menyengat dibandingkan kopi jawa. Keunggulan kopi Kintamani lainnya adalah proses pembudidayaannya. Dimana proses pengembangan tanaman kopi dilakukan dengan proses yang terkenal ramah lingkungan. Proses pemeliharaan perkebunan kopi di Kintamani juga memanfaatkan pupuk organik. Perlu diketahui bahwasanya pupuk organik tersebut dihasilkan dari ternak sapi yang terbilang hemat di biaya dan memanfaatkan limbah organik.

Selain menerapkan proses penanaman pohon kopi menggunakan pupuk organik, petani kopi di Kintamani juga menerapkan subak. Subak merupakan sistem pengairan secara turun temurun dilakukan di Bali untuk mengairi sawah atau perkebunan. Proses pengairan menggunakan sistem subak ini memang terbukti mampu memperbaiki kualitas tanah dan meningkatkan produksi. hal tersebut tentunya tidak terlepas dari kesepakatan untuk tidak menggunakan bahan kimia berupa pupuk atau pestisida yang berbahan kimia.

Selain itu di Kintamani, para petani kopi Kintamani juga memiliki kesepakatan atau bahkan terbilang aturan. Dimana isi aturan tersebut merupakan larangan bagi petani kopi Kintamani memanen kopi yang tidak berwarna merah. Dimana kopi yang berwarna merah merupakan kualitas kopi yang bagus. Apabila terdapat anggota petani kopi Kintamani yang melanggarnya akan mendapat sanksi adat. Para petani di Bali memang memegang prinsip Tri Hita karana yang merupakan sebuah filosofi yang berpusat pada usaha untuk menjaga perdamaian dan ketenangan antar manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya.

Metode Proses Pengolahan Kopi Kintamani

Pada umumnya pengolahan kopi terdiri dari 2 cara pengolahan yaitu cara kering ataupun secara basah. Proses pengolahan kopi yang banyak digunakan adalah proses kering. Namun berbeda dengan proses pengolahan kopi di Kintamani Bali. Dimana khususnya kopi Kintamani membutuhkan pengolahan secara basah atau disebut juga dengan istilah wet process/ WP. Cara ini merupakan cara tradisional Bali. Langkah tersebut dilakukan dengan buah kopi dibuang sebelum bijinya mengering. Dengan menerapkan proses pengolahan tersebut tentunya akan menjadikan warna biji kopi Kintamani lebih terang dibandingkan dengan kopi-kopi lainnya di Indonesia.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengolah kopi Kintamani tersebut. Salah satunya adalah pada proses panen. Menggunakan pengolahan secara basah dimulai dengan melakukan pemetikan yang benar yaitu secara manual dengan menggunakan tangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas gelondong merah. Hal tersebut dikarenakan gelondong merah merupakan kualitas biji yang terbaik bagi kopi Kintamani. Selain proses pemanenan yang perlu diperhatikan, persiapan lot sebelum ekspor juga menjadi penentuan proses pengolahan kopi Kintamani. Dimana nilai cacat fisik kurang dari 5 per 300 gram berdasarkan speciality coffe association of america dan juga ukuran biji kopi yang lebih besar atau sama dengan ukuran 16.

Setelah proses diatas metode penyangraian juga merupakan proses penting dalam pengolahan kopi Kintamani. Proses penyangraian atau bubuk harus dilakukan pada kondisi kopi yang bagus. Disisi lain kondisi dan mutu biji kopi yang baik harus dipertahankan. Dimana kopi Kintamani dibutuhkan penyangraian menengah. Disisi lain jika kopi Kintamani akan diperjualbelikan pengepakan harus dilakukan dengan menjamin kesegaran dan mutu yang bagus. Dimana pengemasan kopi Kintamani Bali biasa menggunakan tiga lapis dengan katup satu arah.

Untuk proses penyeduhan kopi Kintamani, dulunya dilakukan dengan menuangkan bubuk kopi dengan air panas langsung di cangkirnya dan menyisakan ampas didasar cangkir. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi cara tersebut dianggap kurang modern dan kurang bisa menampilkan ciri khas citarasa kopi Kintamani. Dengan demikian kedai kopi modern pun mulai banyak ditemukan di Bali. Dengan demikian wisata kopi pun juga menjadi daya tarik tersendiri di kota Bali. Mengingat para pecinta kopi banyak yang berdatangan dari turis asing maupun lokal yang tertarik dengan wisata kopi. Perjalanan wisata kopi tersebut dilakukan dengan mengunjungi perkebunan kopi di wilayah Kintamani, selanjutnya wisata kopi tersebut akan dilanjutkan dengan mengenal proses pengolahan kopi hingga dapat dinikmati dalam seduhan kopi. Selain itu para wisatawan juga bisa berbelanja kopi asli Kintamani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *